[DESIGN] Volk Brigade Project

View previous topic View next topic Go down

[DESIGN] Volk Brigade Project

Post by eve on Wed Aug 18, 2010 12:26 pm


The World

Dunia ini terdiri dari banyak dimensi. Dan tiap dimensi idealnya tidak
saling berhubungan. Tapi ada kalanya sebuah lubang terbentuk jika
dimensi itu ‘berjalan’ terlalu dekat.

Melalui lubang itu, makhluk dari dimensi satu bisa masuk ke dimensi
lainnya. Hal ini akan mengacaukan keseimbangan dimensi yang dia masuki
karena pada setiap dimensi terdapat eksistensi lain dari dirinya. Dan
begitu dia bertemu dengan eksistensi lain dirinya itu, terjadilah
fenomena yang disebut ‘doppleganger’.

‘Doppleganger’ akan saling menghilangkan eksistensi. Begitu salah satu
eksistensi menghilang, sebuah lubang lain akan terbentuk untuk
menyeimbangkan eksistensi itu. Hal itu akan terus berulang hingga pada
akhirnya seluruh eksistensi akan lenyap. Dengan kata lain, kedua dimensi
akan lenyap.

***


First Impact

4000 tahun lalu, sebuah kecelakan terjadi di dimensi ke-13. Sebuah
lubang terbentuk dan mulai melenyapkan dimensi lain satu persatu. Hingga
pada akhirnya lubang itu tiba di dimensi ke-22. Semua cara telah
dilakukan untuk mencegah menjalarnya kerusakan ini. Para ilmuwan dari
dimensi ke-22 yang juga menyadari kehancuran yang mungkin terjadi
sepakat untuk menghancurkan dimensi ke-22 sepenuhnya agar kerusakan
tidak meluas dan alam semesta tidak berakhir. Tapi upaya itu nihil.

Dan ketika harapan sudah menghilang sama sekali, mereka muncul.

Original Twins.

Begitulah orang-orang memanggil mereka. Mereka menutup lubang yang
menghubungkan dimensi ke-22 dan dimensi ke-23. Satu hal yang menurut
ilmuwan saat itu adalah hal yang tidak mungkin dilakukan.

First Impact dapat dihentikan tanpa memakan lebih banyak korban.

***

Second Impact

Sebuah penemuan besar 3500 Tahun setelah First Impact sekali lagi
menghubungkan dimensi-dimensi.

ELDA Mainframe

Elda dibuat oleh sekelompok pemuda dari dimensi ke-3. Sebuah A.I. sistem
yang entah mengapa bisa membuka celah antar dimensi yang telah ditutup.

tanpa mengetahui bahaya yang menanti, beberapa orang nekat menyeberang
ke celah dimensi dan memicu Second Impact.

Sekali lagi dunia di hadapi oleh krisis. Tapi kali ini tanpa kehadiran
Original Twins.

Semua teknologi yang diciptakan sama sekali tidak bisa mencegah
ambruknya keseimbangan dimensi. Dan sekali lagi mereka di hadapkan pada
dua pilihan. Memusnahkan salah satu dimensi seutuhnya, atau membiarkan
seluruh dimensi hilang tanpa bekas.

Dan diputuskan untuk memusnahkan dimensi ke-35.

Dimensi ke-35 hilang bersama seluruh eksistensi di dalamnya.

***

Third Impact

Second impact malah membuat para peneliti untuk makin gencar mencari
tahu tentang pola dan ciri khas celah dimensi.

Hal ini makin diperkuat dengan ditemukannya whitebox ELDA Mainframe yang
disangka telah lenyap bersama dimensi ke-35.

Dengan meneliti semua data dari ELDA, para ilmuwan berhasil menemukan
pola eksistensi tiap dimensi.

Dan perjalanan lintas dimensi dapat dilakukan dengan aman. Pertukaran
informasi antar dimensi pun berjalan lancar. Demi mencegah kemungkinan
buruk, dibentuklah DSDF (Dimensional Splitter Defense Force).

DSDF melakukan tugasnya dengan cemerlang. Semua perjalanan lintas
dimensi ilegal berhasil dicegah.

salah satu prestasi paling gemilang DSDF adalah mengamankan blueprint
Pluton dari eksistensi dimensi ke-66.

Sayangnya, blueprint ini dicuri dan dijual di pasar gelap. Informasi ini
akhirnya jatuh di tangan AGAS. Sebuah perusahaan penghasil senjata.

Dan Pluton pun tercipta.

Sebuah meriam raksasa yang mampu merobek paksa celah dimensi dan
menghancurkan seluruh isinya.

Third Impact menghancurkan dimensi ke-22. Membuat sebagian besar pasukan
DSDF yang berusah amenghentikannya musnah.

Tetapi anehnya, efek tembakan pluton sama sekali tidak menjalar ke
dimensi lain. Third Impact terhenti dengan hanya menghancurkan dimensi
ke -22.

***

Sistem Politik, Sosial, Militer, Teknologi, dan ekonomi

Setelah ditemukan perjalanan lintas dimensi, sistem politik berubah
jauh. Negara-negara dan koloni ruang angkasa yang dulunya terpisah
serentak menyatukan diri dan berada didalam satu bendera yang sama.
Bendera Dimensi.

Keberadaan eksistensi humanoid dan bahkan eksistensi dengan fisik jauh
berbeda dengan manusia juga sudah tidak asing lagi. Contohnya adalah
eksistensi dari dimensi ke-66

dan seluruh dimensi dengan teknologi yang dianggap sudah maju, bersatu
dalam sebuah aliansi AURORA.

AURORA memiliki misi menjaa perdamaian antar dan interdimensi. AURORA
berpusat di dimensi ke-3 dimana dimensi ke-3 merupakan dimensi dengan
teknologi paling maju.

DSDF adalah pasukan yang bernaung di bawah AURORA dan memiliki otoritas
tertinggi di antara semua pasukan antar dan interdimensi.

Pasukan Interdimensi sepenuhnya berada di bawah pemerintahan dimensi itu
dan memiliki tugas untuk menjaga keamanan dimensi mereka masing-masing.
Baik dari kekacauan interdimensi maupun kemungkinan penyerangan dari
eksistensi lain.

Meski dimensi yang tergabung dalam AURORA telah berbagi teknologi, namun
masih ada dimensi yang teknologinya belum berkembang sama sekali. Dan
adalah salah satu kebijakan dari AURORA untuk tidak mengganggu
perkembangan teknologi dimensi tersebut. Mereka yang membawa teknologi
asing ke dimensi berkembang akan mendapatkan hukuman berat.

Jika ada dimensi yang baru menyadari keberadaan dimensi lain. AURORA
akan melakukan kontak dengan dimensi ini dan mengajak mereka bergabung
dengan AURORA. Meski ada juga dimensi yang langsung menyerang begitu
menyadari keberadaan dimensi lain.

Setiap dimensi tentunya memiliki budaya dan bahasa yang beragam.
Untungnya sebuah universal translator diciptakan untuk mencegah
timbulnya salah paham dan memudahkan komunikasi.

Perdagangan antar dimensi dalam AURORA juga berlangsung pesat. dengan
mata uang universal KIR, perdagangan dapat dilakukan bebas sesuai aturan
yang berlaku.

***

DSDF

Dibentuk untuk mencegah terulangnya Impact. Mereka bertugas untuk
mengawasi lalu lintas dimensi dan memiliki otoritas tertinggi dikalangan
militer.

Markas utama DSDF hanya berjarak sekitar 3 tahun cahaya dari pusat
pemerintahan AURORA di dimensi ke-3. Pada sebuah planet biru bernama;
Bumi (english)

DSDF sendiri terdiri atas enam divisi yaitu:


  • Battler
    Division
    Divisi tempur utama DSDF dan merupakan ujung tombak operasi. Battler
    division beranggotakan Battler-battler tangguh dari berbagai dimensi.
    Untuk dapat bergabung mereka harus melalui proses seleksi yang sangat
    ketat.

    Shielder Division
    Beranggotakan Shielder-shielder handal, Shielder Division DSDF adalah
    salah satu divisi yang tidak bisa dianggap remeh. Dalam setiap operasi,
    mereka akan memasuki daerah berbahaya terlebih dahulu, baru disusul oleh
    Divisi Battler.

    Esper & Realms Division
    Salah satu divisi dengan anggota sedikit karena susahnya untuk mencari
    esper yang cukup kuat untuk bergabung. Mereka biasanya baru ikut pada
    operasi besar atau pertempuran terbuka.

    Medic & Rescue Division
    satu-satunya divisi DSDF yang tidak bisa bertempur. Mereka bertugas
    merawat orang terluka atau mengamankan mereka yang gugur dalam
    pertempuran.

    Heavy Arms Division
    Tim khusus bersenjatakan altileri berat dan mecha. Beranggotakan Rider
    yang kebanyakan berasal dari dimensi ke-3. Meski terlihat paling
    berbahaya, mereka lebih senang meneliti dibanding ikut bertempur.

    Scouting Division
    Divisi yang nyaris tidak diketahui keberadaannya. Hanya Scouter yang
    diakui kemampuannya yang akan direkrut. Karenanya, nyaris tidak ada info
    yang beredar tentang Divisi ini. Bahkan para keluarga mereka sendiri
    tidak tahu kalau mereka adalah anggora DSDF. Meski kebanyakan memang
    sudah tidak memiliki keluarga. Para anggota DSDF yang lain sering
    menyebut mereka sebagai 'earthbound squad'

***

Class:

Esper
Memiliki kemampuan untuk mengalihkan sifat elemen yang terdapat di
setiap alam semesta. Terdapat lima elemen yang biasanya dapat
dikendalikan oleh para esper; Api, Air, Tanah, Udara, Cahaya. Meski
begitu terkadang ada Esper yang bisa mengendalikan elemen khusus
seperti; elemen cahaya, Ether, bahkan waktu. Para Esper lebih berfokus
pada melatih kemampuan konsentrasi dan mengalihkan aliran elemen.
Karenanya mereka biasanya memiliki fisik yang tergolong lemah. Meski
begitu, serangan esper tidak dapat dipandang remeh.

Shielder
Lebih memfokuskan diri pada pertahanan dan tidak begitu memiliki
inisiatif menyerang. Biasanya selalu ditempatkan di barisan depan
bersama para Battler ataupun di barisan tengah melindungi para Esper.
Meski terlihat sama sekali tidak berbahaya karena sangat jarang membawa
senjata, bukan berarti para shielder tidak bisa menyerang. Pada saat
terdesak, mereka bisa menggunakan perisai mereka sebagai bumerang dan
terkadang maju ke barisan depan untuk bertarung bersama battler.

Rider
Memanfaatkan teknologi yang diiliki dimensi yang lebih maju. Mereka
sebenarnya bukan divisi tempur dan cinta perdamaian. Meski begitu,
perang memaksa mereka untuk ikut bertarung, dan sekali lagi teknologi
menunjukkan sisi gelapnya. Dalam pertarungan, para Rider biasanya
menggunakan mecha ataupun persenjataan berat. Biasanya bergerak bersama
tim medic di barisan belakang dan memberikan cover fire bagi para
battler di barisan depan.

Medic
Kebanyakan adalah seorang ilmuwan atau peneliti yang cinta damai. Mereka
akan mengobati siapa saja tanpa pandang bulu. Baik itu kawan maupun
lawan. Dan adalah sebuah kejahatan besar untuk melukai seorang medic
dalam pertempuran. Para medic selalu berpasangan bersama seorang Rider
sebagai pelindungnya.

Battler
Barisan terdepan pertempuran. Ahli dalam segala jenis senjata dan
kebanyakan bersifat agak brutal. Kebalikan dari shielder, para battler
biasanya tidak peduli pada pertahanan dan selalu maju menyerang dengan
kekuatan penuh.

Scouter
Ahli dalam misi infiltrasi dan pengumpulan informasi. Tidak banyak info
yang diketahui tentang para Scouter karena mereka selalu bergerak di
belakang layar. Mereka bergerak sangat cepat dan begitu pertempuran
dimulai, mereka akan langsung menghilang. Yang menjadi cirikhas mereka
adalah adanya A.I. yang mendampingi mereka.

A.I.
pendamping Scouter yang berbentuk peri kecil. Mereka bertugas seperti
komputer kecil yang selalu mencatat log dan tempat menyimpan informasi
yang para scouter kumpulkan. apabila dalam kemungkinan terburuk scouter
yang mereka dampingi gugur, mereka akan segera kembali ke HQ, melaporkan
data yang mereka terima dan kemudian berhenti beroperasi.


Last edited by eve on Wed Aug 18, 2010 12:31 pm; edited 1 time in total

eve
Newbie
Newbie

Loli Mecha Musume

Race : Loli
No Medal
Posts : 28
Gold : 4651
Reputation : 3
Join date : 2010-08-14
Age : 25

View user profile

Back to top Go down

Re: [DESIGN] Volk Brigade Project

Post by eve on Wed Aug 18, 2010 12:28 pm

=======================================================
===========================
F i r s t P h a s e
~runaway~
===========================
=======================================================

Aku berlari secepat yang aku bisa. Satu-satunya hal
yang sempat kupirkan saat ini adalah cara untuk lari sejauh mungkin,
secepat mungkin, selama mungkin. Aku tidak berani berbalik. Sudah jelas
pasukan kerajaan yang mengejarku masih belum menyerah. Bisa kurasakan
aura penuh nafsu mereka menusuk-nusuk punggungku yang sedari tadi
berkeringat dingin.

Aku sudah tidak tahu seberapa lama aku berlari. Mungkin sudah dua atau
tiga hari. Tenagaku benar-benar telah habis terkuras. Jangankan untuk
makan, untuk duduk istirahat sebentar saja tidak pernah terlintas di
pikiranku. Pesan terakhir Siva yang menyuruhku untuk kabur memasuki
hutan terlarang adalah satu-satunya hal yang mendorongku terus berlari.

Ah, Siva…

Bayangan tubuh kekarnya yang ditembus puluhan anak panah berkelebat di
mataku. Memaksaku untuk mempercepat ayunan kakiku yang mati rasa dan
mulai berlumuran darah segar. Kenapa semua ini harus terjadi!!?
Kenapa!!?

***

“Wah, cewek ini gila juga.”

Suara yang sama sekali tidak kukenal adalah hal pertama yang mengisi
otakku saat aku tersadar. Mungkin belum bisa aku sebut tersadar. Mataku
sama sekali tidak bisa kubuka. Lidahku terlalu kelu untuk berucap.
Tubuhku terlalu letih tuk bergerak.

Di mana aku?

Pertanyaan standar yang selalu menghiasi buku-buku cerita petualangan di
perpustakaan kerajaan. Ironis juga. Dulu aku selalu berharap bisa
menjalani petualangan seperti itu. Dan begitu aku mengalaminya, aku
sendiri malah muak dan rasanya seperti ingin menangis.

“Hei, sepertinya dia sudah sadar.”

Suara lain terdengar agak sedikit jauh. Suara perempuan.

Aku benar-benar penasaran. Aku sebenarnya sedang berada di mana. Aku
begitu ingin membuka mata, namun makin keras aku berusaha melihat, makin
pekat kegelapan yang menyelimutiku. Apa jangan-jangan aku sudah mati?
Aku sering membaca -lagi-lagi di perpustakaan kerajaan- kalau kematian
itu selalu dimulai dari kehilangan indera penglihatan.

“Chiox, apa yang sedang kau lakukan?” Suara perempuan yang terdengar
sedikit lebih rendah dari suara kedua tadi menggema di sekitarku. “Dasar
cowok aneh.”

“Sudahlah Katcha…” Kali ini suara laki-laki. Dari jumlah suara yang
kudengar, sepertinya ada empat orang di dalam ruangan itu. “Dia memang
orang aneh. Benar gak, Ver?”

“Yup…” Suara kedua tadi menjawab dengan nada sedikit centil. “Kakak
Shylphid benar 150%. Kakak Chiox itu ma…ni…ak…”

“MEMANGNYA SIAPA YANG MANIAK!!!” Suara yang sepertinya dipanggil Chiox
berteriak sedikit kesal. “Aku sedang mengobatinya tahu.”

“Ya… Kamu memang mengobatinya, tapi dengan cara yang sedikit mesum.”

Percakapan mereka terus berlanjut, sesekali diselingi dengan tawa ringan
atau teriakan kesal. Tapi aku sama sekali tidak bisa mengikuti
perbincangan mereka. Kepalaku terlalu berat untuk tetap sadar. Pada
akhirnya kesadaranku sedikit demi sedikit memudar hinga akhirnya hilang
sama sekali.

***

“Maafkanlah ulah makhluk bodoh ini. Mungkin terlihat aneh, tapi dia
sedang mengobatimu.”

Gadis itu menjelaskan dengan ramah sambil mengupas apel di samping
pembaringanku. Rambutnya berwarna merah muda sebahu. Warna yang aneh dan
sangat jarang di kerajaan ini. Memang ada suku berambut biru di wilayah
utara, tapi rambut merah muda? Baru kali ini aku melihatnya. Pakaian
yang dia kenakan pun terbilang aneh. Pakaian berwarna kuning berlengan
pendek dengan beberapa motif oranye di punggungnya. Celana pendek sampai
betis yang dia kenakan terlihat apik dengan pita besar berwarna senada
yang terpasang di belakang pinggangnya.

Orang yang dia maksud sendiri berpenampilan tidak kalah aneh. Kutaksir
dari perawakannya yang sedikit tingi kurus, sepertinya dia berumur 20-25
tahun. Rambut hitamnya sedikit berombak ke belakang. Pakaianya sendiri
terlihat sedikit tipis, sama seperti gadis berpakaian kuning ini.
Sedikit mengherankan juga melihat mereka mengenakan pakaian tipis di
musim seperti ini.

Aku melemparkan pandanganku ke sekeliling. Sebuah gubuk yang sepertinya
sudah ditinggal penghuninya. Mereka tidak mungkin tinggal di tempat yang
sudah nyaris hancur seperti ini. Dugaan terbaikku, mereka juga sedang
dalam pelarian.

“Ngomong-ngomong, siapa orang yang mengejarmu itu?”

Pertanyaan gadis itu makin membulatkan kesimpulanku kalau mereka juga
sedang dikejar. Mungkin mereka khawatir kalau mereka akan ketahuan jika
terus bersamaku. Jika benar mereka akan pergi meninggalkanku, bagiku
tidak masalah. Aku sudah merasa cukup sehat.

“Tenang saja, kami tidak berniat meninggalkanmu.” Gadis itu tersenyum,
menebak apa yang ada dikepalaku. “Lagipula, kami bukan orang jahat atau
pelarian kok.”

Bagaimanapun, aku tentunya terkejut. Dia seolah bisa menebak apa yang
ada dipikiranku. Jangan-jangan orang ini penyihir. Sama seperti yang
tertulis di buku kuno di perpustakaan. Jangan-jangan dia adalah orang
yang aku cari?

“Mungkin saja.”

Gadis itu kembali tersenyum lalu keluar dari kamar memanggil
teman-temannya.

“Perkenalkan, namaku Verseva.” Gadis yang tadi mengupas apel itu
memperkenalkan diri saat ketiga temannya tiba dan mengelilingi tempatku
berbaring. “Orang yang bertampang mesum itu Chiox. Dia yang
mengobatimu.”

“MEMANGNYA SIAPA YANG BERTAMPANG MESUM!!!” Chiox merespon dengan sedikit
berlebihan. Membuat Verseva tertawa kecil melihat godaannya sukses.

Aku yang biasanya pasti akan ikut tertawa melihat itu. Tapi tidak kali
ini. Tawaku seolah hilang saat Siva merintih berlumuran darah di
hadapanku.

“Panggil saja aku Katcha.” Gadis yang sedari tadi aku tatap tanpa sadar
akhirnya buka suara. Berbeda dengan Verseva, dia terlihat sedikit lebih
tua dan pendiam. Yang paling mencolok darinya adalah sebuah perisai
besar di punggungnya serta rambut perak panjang yang sedari tadi
melambai tertiup angin dari jendela.

“Gue Shylphid.” Orang terakhir akhirnya ikut memperkenalkan diri. Dia
yang sedari tadi sibuk mengelap sebuah benda mirip kunci -atau mungkin
itu memang kunci- sepertinya cuek saja dengan kehadiranku. Berbeda
dengan Verseva ataupun Chiox yang tidak bisa menyembunyikan senyum yang
artinya entah apa.

Aku baru saja hendak ingin ikut memperkenalkan diri saat sebuah suara
kembali memaksaku terdiam.

“Anna Parvasi, putri kerajaan Cressave. Saat ini dilaporkan hilang saat
kereta yang seharusnya membawanya ke Cressa dihadang oleh bandit.” Suara
itu mau tidak mau memaksaku untuk berbalik. Meski aku tidak menemukan
siapapun dari arah yang kurasa asal suara laki-laki itu.

Dan yang dikatakan oleh suara itu hampir benar. Aku adalah Anna Parvasi,
putri kedua Raja Strokla Parvasi. Hanya saja kereta yang aku tumpangi
bukanlah diserang oleh bandit, melainkan diserang leh pasukan kerajaan
Rubidia.

Ah! ini bukanlah saatnya untuk berbaring santai di sini. Aku harus
kembali ke Cressa. Berita ini harus sampai ke ayah


***

[/center]


Last edited by eve on Wed Aug 18, 2010 12:31 pm; edited 2 times in total

eve
Newbie
Newbie

Loli Mecha Musume

Race : Loli
No Medal
Posts : 28
Gold : 4651
Reputation : 3
Join date : 2010-08-14
Age : 25

View user profile

Back to top Go down

Re: [DESIGN] Volk Brigade Project

Post by eve on Wed Aug 18, 2010 12:29 pm

=======================================================
===========================
S e c o n d P h a s e
~a man, a girl, a princess, a history~
===========================
=======================================================


1 Mei

Perlahan-lahan mereka mulai kehilangan kesadaran. Bahkan para AI pun
sudah tidak bisa menahan mereka. Steven dan Kevin sudah berubah menjadi
monster haus darah tanpa perasaan. Cepat atau lambat, yang lain juga
akan berubah seperti mereka.

2 Mei

Hari ini Gerald dan Aron ikut berubah. AI mereka sama sekali tidak
merespon. Aku semakin bingung dengan apa yang terjadi. Hal terakhir yang
kulihat sebelum mereka berubah adalah AI mereka yang menjadi batu. Apa
semua ini ada hubungannya.

3 Mei

Aku satu-satunya yang belum berubah. Semalaman aku bersembunyi dari
kejaran mereka. Aku sudah memutuskan, semuanya harus berakhir malam ini.
Kami akan menghilang malam ini.


Aku hanya tertegun melihat tulisan di lempengan besi itu. Terus terang,
aku awalnya sama sekali tidak percaya pada cerita tentang Pasukan Hantu.
Awalnya kupikir mereka hanya cerita untuk menakut-nakuti anak nakal.

Ayolah, siapa yang akan percaya cerita tentang lima belas orang yang
menghabisi 10.000 pasukan dalam semalam. Mereka bergerak secepat kilat,
dengan tenaga yang bahkan bisa menghancurkan gunung. Tangan kiri mereka
mengeluarkan panas yang bisa melelehkan besi dan pedang di tangan kanan
mereka bisa membelah baju besi sekeras apapun.

Tapi mau tidak mau aku harus tersenyum kecut melihat apa yang ada di
hadapanku. Mestinya tidak kuikuti anak kecil aneh yang menarikku ke
dalam goa ini. Lagipula, mana aku tahu kalau anak kecil itu akan
menghilang tiba-tiba setelah berkata aneh.

“Tolong, selamatkan tuanku”

Kata-kata anak itu kembali terlintas di telngaku. Awalnya aku tidak
mengerti apa yang dia katakan. Tapi begitu ku perhatikan lagi, aku bisa
mengerti. Dia menyuruhku untuk menyelamatkan orang ini. menyelamatkan
orang yang terbaring beku dalam tabung tidak jelas ini.

Baiklah, anggap saja anak kecil berpakaian aneh itu bukanlah sekedar
halusinasiku -atau jebakan dari setan-, dan jika ku tekan tombol merah
besar di hadapanku ini orang itu akan selamat, apa yang akan aku katakan
pada kakak?

“Darimana kamu menculik laki-laki itu, Ven?”

Ejekan kakak bersama tawa mengejek pasukan tergambar jelas lalu
berputar-putar dalam kepalaku.

Pilihan terbaikku, aku akan pergi dari sini dan menganggap tidak pernah
ada yang terjadi. Aku berbalik meninggalkan tombol yang begitu menggoda
untuk ditekan itu. Tapi langkahku terhenti di pintu. Terhenti oleh anak
perempuan kecil berpakaian aneh yang tadi menarikku. Terhenti oleh air
mata lugu dan suara kecilnya yang memohon-mohon padaku.

Sebenarnya apa yang terjadi!!?

***

“TUAN!!!”

Gadis kecil itu berlari menghambur saat es yang mengelilingi tuannya
menguap. Aku sendiri tidak habis pikir, setan apa yang mendorongku untuk
menekan tombol itu. Dan tanpa kusadari, aku telah memutar roda nasib
yang beberapa ratus tahun ini terhenti.

“Apa-apaan ini?” Orang yang tadi beku itu mengeluarkan suara sambil
menatap tajam gadis kecil itu. “Sera, bagaimana bisa kamu membuka segel
ini?”

Gadis kecil itu tidak menjawab, dia hanya terus menangis sambil memeluk
tuannya. Orang aneh itu sepertinya tidak mengharapkan jawaban atas
pertanyaannya, dia bisa menebak apa yang terjadi dari keberadaanku dalam
ruangan itu.

Oke, penampilan gadis kecil itu memang aneh. Pakaian mewah dengan pita
besar di punggungnya. Tapi pakaian tuannya jauh lebih aneh. Tangannya
terbungkus oleh sarung tangan logam yang terlihat sangat berat. Benda
aneh juga terpasang di wajahnya. Terlihat seprti kaca yang berfungsi
untuk melindungi matanya. Sementara dia mengenakan sweater tanpa lengan
dan celana panjang yang sepertinya terbuat dari kain tenda kereta.

“Hei, cewek aneh yang di sana!” Orang itu memanggilku dengan tidak
sopan. “Sekarang tahun berapa?”

“3 Mei 1333? Meski sedikit kesal dengan panggilan cewek aneh, aku tetap
menjawab pertanyaannya.

“333 tahun.” Orang itu tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya ke
gadis kecil yang tadi dia panggil Sera. “Sudah agak lama juga. Bagaimana
kabarmu, Sera?”

Gadis kecil itu tidak menjawab. Dia hanya menatap wajah tuannya sambil
terus menangis.

“Maafkan Sera, Tuan.” Dia itu menangis makin keras. Berbeda dengan
tangis harunya yang tadi, kali ini dia menangis sedih penuh penyesalan.
“Sera sudah gagal melaksanakan tugas.”

Ekspresi orang itu langsung berubah. Begitu kusadari, orang itu telah
berlari ke lubang di belakang tempatnya tadi membeku.

“LEON!!!” Orang itu berteriak keras.

“Leon? Carleon?” Refleks kata-kata itu meluncur dari bibirku.

“Kau tahu dimana dia?” Orang itu berbalik. Matanya memerah karena
amarah. Meski dia berada agak jauh dariku, panas tubuhnya bisa kurasakan
menusuk-nusuk kulitku.

“Ikutlah denganku, sepertinya kita punya tujuan yang sama.”

***

Pasukan hantu.

Begitulah orang-orang menyebut mereka. Sebagai orang yang selalu
berpikir logis, aku sebenarnya tidak mempercayai keberadaan mereka. Nama
mereka sama sekali tidak pernah tercantum di buku sejarah. Kabar
tentang mereka tidak lebih dari gosip-gosip kosong yang telah dibumbui
cerita-cerita tidak masuk akal. Ada yang bilang mereka adalah pasukan
orang mati yang digunakan oleh Kerajaan. Ada yang bilang mereka adalah
manusia yang telah bergabung dengan iblis. Ada yang bilang mereka adalah
orang-orang yang dibuat dengan menggunakan sihir. Tentu saja aku sama
sekali tidak bisa percaya dengan semua itu.

Meski perkembangan ilmu sihir tergolong pesat saat itu, tapi hinga saat
ini aku belum pernah mendengar adanya sihir yang bisa menciptakan
manusia super. Untuk membuat Chimera saja butuh waktu berbulan-bulan.
Memang ada beberapa penyihir gila yang mencoba membuat chimera manusia.
Tapi tidak pernah ada yang berhasil.

Ah, rasanya semua argumen yang kukeluarkan bisa dipatahkan hanya dengan
satu hembusan nafas dari orang ini. Aku tidak begitu mengerti siapa dia.
Dia juga tidak bicara banyak. Yang lebih sering menjelaskan justru anak
kecil yang terus lengket di lengannya, Sera. Dari Sera pulalah aku bisa
tahu nama orang itu. Volken!

Ditengah-tengah lamunanku, akhirnya kami tiba di Benteng Roterdam.
Benteng garis depan pertahanan Kerajaan Dimonia. Entah mengapa dia
begitu tertarik pada Carleon, jenderal utama pasukan Kerajaan Rubidia.
Tapi yang jelas, jika dia benar-benar angota Pasukan Hantu, dia pasti
akan berguna untuk kami.

***

“Tidak perlu basa-basi. Apa yang kamu ketahui tentang Leon?”

Pertanyaan blak-blakan Volken kontan membuat seisi ruangan rapat kaget.
Tanpa sopan santun dia langsung menodongkan pertanyan itu kepada
Jenderal Perang Kerajaan Dimonia, Kakakku.

Beberapa panglima langsung menghunuskan pedang, siap memisahkan tubuh
dan kepala Volken. Aku sendiri tidak menyangka dia akan seperti itu.
Entah karena dia tidak sadar dia sedang berbicara dengan siapa ataukah
dia memang tidak peduli dia berbicara dengan siapa.

“Maafkan ketidaksopanan Tuanku.” Sera berbicara sopan sambil membungkuk
memberi hormat -yang bahkan akupun tidak bisa lakukan-. “Tuanku hanya
sedikit terbawa emosi.”

Suara kecil Sera berhasil membujuk panglima-panglima tadi untuk
menyarungkan pedangnya. Kakak sendiri hanya tertawa panjang melihat
kejadian tidak lucu lagi. Dia mungkin memang sedikit nyentrik, tapi dia
tetap kakakku.

“Vena, kamu membawa orang yang menarik.” Kakakku memulai godaannya
sambil tertawa panjang. “Hei orang asing, apa kamu mau menjadi salah
satu panglimaku?”

***

Aku sama sekali tidak bisa percaya dengan apa yang kulihat barusan.
Volken ditawari untuk menjadi panglima dan dia menolaknya tanpa
berpikir. Aku benar-benar tidak habis pikir. Memang dia tidak menolak
secara langsung. Tapi dengan berkata seperti itu, itu jelas-jelas sebuah
penghinaan.

Bulan purnama berkilau keperakan. Seolah sama sekali tidak peduli dengan
kekacauan yang sedang terjadi di bawahnya. Apalagi kekacauan itu
bertambah satu dengan kehadiran Volken.

Sepertinya bukan hanya aku yang sedang memperhatikan bulan. Di atas atap
benteng, Volken dan Sera juga tengah mendongakkan kepalanya menatap
sungai-sungai bintang. Aku masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi
sebenarnya. Pikiranku terasa meloncat-loncat sejak tadi pagi, sejak Sera
menarikku ke dalam goa itu.

Aku butuh sesuatu untuk menjernihkan kepalaku, dan hal yang paling tepat
untuk menjernihkan kepalaku adalah dengan membaca buku. Jadi aku
mengambil buku di atas meja kamarku lalu mulai asik dengan untaian huruf
yang bertenger di sana. Memang terdengar aneh, tapi aku sangat
menyenangi sejarah. Semua buku yang kumiliki adalah tulisan sejarahwan
terkenal.

Dan kepingan sejarah yang paling aku sukai adalah perang besar 333 tahun
yang lalu. Perang yang konon sampai hanya menyisakan seperlima populasi
dunia.

“Untuk apa kamu membaca sampah seperti itu.”

Volken tiba-tiba sudah berdiri tegap di teras kamarku. Dan seperti
biasa, Sera tetap berada di sampingnya.

“Jangan percaya dengan apa yang mereka tulis. Mereka tak lebih dari
pembohong haus uang.” Volken melemparkan sebuah buku catatan yang
sedikit kusam. Lalu berkata sebelum melompat pergi. “Itu adalah buku
sejarah yang ditulis oleh rekanku. Satu-satunya sejarahwan jujur yang
tersisa saat itu.”

Dan lagi-lagi aku hanya bisa bengong melihat kejadian yang berlalu
begitu cepat.

Kutatap buku kumal itu. Umurnya mngkin lebih tua dari buku yang baru aku
baca. Aku tidak begitu mengerti apa yang Volken bicarakan. Tapi tidak
ada salahnya untuk mencoba membaca buku itu, bukan? Kata pertama yang
menyambutku di halaman depat cukup untuk membuatku terpaku sejenak.

‘Kupersembahkan untuk mereka yang tidak dikenal oleh sejarah.’

***


Last edited by eve on Wed Aug 18, 2010 12:30 pm; edited 1 time in total

eve
Newbie
Newbie

Loli Mecha Musume

Race : Loli
No Medal
Posts : 28
Gold : 4651
Reputation : 3
Join date : 2010-08-14
Age : 25

View user profile

Back to top Go down

Re: [DESIGN] Volk Brigade Project

Post by eve on Wed Aug 18, 2010 12:29 pm

=======================================================
===========================
T h i r d P h a s e
~we are~
===========================
=======================================================

“Dari mana kamu?”

“Dimensi 35.” Shylphid menjawab ringan. “Menurut gua sih bakal ada hal
menarik disana…”

“Maksudmu?”

“Rea ketemu ama orang yang mirip banget ama Melissa.”

“Oh…” Keadaan hening sejenak. “Semoga kejadian yang menimpa Melissa
tidak terulang padanya.”

***

Percakapan aneh yang berlangsung begitu cepat dihadapanku makin
membuatku yakin kalau mereka ini bukan orang biasa.

Apa mungkin aku bisa meminta bantuan kepada mereka?

Tapi, mereka sudah begitu banyak membantuku. Harga diriku sebagai
seorang putri memaksaku untuk berpikir lagi.

“Ada apa?” Verseva yang sepertinya baru bangun menyapaku dengan mata
setengah tertutup. “Perlu aku panggil kakak Chiox? Mukamu terlihat
aneh.”

“Ti…Tidak apa-apa kok.” Aku langsung salah tingkah begitu keperogok
mencuri dengar.

“Oh…” Verseva membuka topi lalu menggaruk rambut merah mudanya. “Kalau
begitu aku mau tidur lagi.”

Aku hanya tersenyum kaku melihat Verseva melangkah ringan ke tumpukan
jerami yang kami jadikan alas tidur. Entah karena dia lelah atau karena
dia aneh, dia terus menerus tidur sejak kemarin. Sekarang sudah satu
setengah hari dia tidur dan sepertinya dia belum puas.

Suara berderit pintu sekali lagi nyaris membuat jantungku melompat
keluar.

“Verseva masih tidur?” Chiox menggaruk kepalanya lalu menatapku. “Apa
kamu mau diantar ke ibu kota terdekat?”

“Eh…?”

***

Meski senang, rasanya dadaku sedikit sebal. Padahal aku sempat pusing
memikirkan hal ini, tapi pada akhirnya justru mereka sendiri yang
menawarkan untuk mengantarku. Dunia memang aneh.

Cressa memang masih jauh dari tempat ini. Tapi Dimonia hanya berjarak
dua hari jalan kaki. Dimonia adalah satu-satunya kerajan sekutu Cressave
yang masih bisa dipercaya. Lagipula, putri kerajaan Dimonia adalah
teman mainku sejak kecil.

“Seberapa jauh lagi?” Verseva mulai mengeluh. “Aku mulai mengantuk nih…”

“Tenang saja, kita akan tiba sebelum fajar besok.” Jawabku ringan.

“Eh…” Verseva terduduk lemas lalu mulai merengek. “Aku sudah tidak tahan
lagi…”

“Lu gimana sih?” Shylphid menarik Verseva dengan sedikit kasar. “Kalau
lu duduk disitu sampainya bakal lebih lama lagi.”

“Tapi aku capek… Trus ini juga udah hampir 30 jam. Bentar lagi waktu
tidur aku.” Verseva makin merengek manja. “Kakak Shylphid keluarin apa
kek. Keluarin baling-baling bambu aja biar cepet!”

“Lu kira gua Doraem*n dimensi ke-3 apa?” Shyphid menggaruk kepalanya
yang tidak gatal. “Ya udah, sini gua gendong!”

“Eh…!?” Perkembangan situasi yang sedikit aneh ini membuat pekikanku
keluar sendiri. Chiox yang sepertinya sudah sering melihat adegan ini
hanya tersenyum kecil sementara Katcha justru measang perisainya dalam
posisi siaga.

“Ada musuh…” Katcha berkata pelan lalu menancapkan pasak yang keluar
dari bawah perisainya.

Tak lama berselang, puluhan anak panah menghantam perisai itu dengan
sukses.

“Cepat berlindung!” Chiox menarikku yang sempat terpaku ke belakang
Katcha. Sementara hujan panah tidak henti-hentinya terus mengalir,
menghantam perisai yang Katcha pegang.

Hal ini sedikit aneh menurutku. Kenapa mereka hanya menyerang perisai
Katcha? Padahal mereka bisa saja membidik Shylphid atau Verseva yang
berada beberapa meter di belakang. Panah itu seperti… tertarik.

“Ver!” Chiox berteriak ke arah Verseva yang langsung melompat ke
arahnya. “Selesaikan dalam sekali serangan!”

“Tapi kalau begitu, aku bakal langsung tidur lho.” Verseva menjawab
sedikit centil sambil mengambil tongkat dari pita di belakang
pinggangnya.

“Tenang saja, Shylphid yang bakal urus masalah itu.” Chiox memberi kode
kepada Shylphid yang sepertinya sedikit risih dengan janji yang tadi
dilontarkan Chiox.

“Oke…” Verseva berjalan ke samping Katcha sambil menunjukkan tongkatnya
ke arah panah-panah itu berasal. “Maaf, ini mungkin sedikit sakit.”

***

Aku tidak melihat detailnya karena Chiox mendekapku di saat-saat
terakhir. Hal yang kulihat saat Chiox melepaskan dekapannya adalah
Shylphid yang menggendong Verseva dan Katcha yang menyimpan perisainya
ke tempat semula.

Dan…

Hujan panah itu berhenti?

Apa yang sbenarnya terjadi? Beberapa saat lalu puluhan bahkan mungkin
ratusan anak panah berusaha untuk menembus tubuh kami. Tapi kini
keheningan justru memenuhi tempat ini. Apa yang terjadi pada panah-panah
itu.

“Musuh sudah kalah.” Katcha menjawab singkat saat aku tanya lalu bersiap
melanjutkan perjalanan.

Sekarang sudah jelas. Mereka bukan orang biasa!

***

“Pertanyaanku mungkin sedikit kurang ajar tapi… Kalian sebenarnya
siapa?”

Chiox menatapku seolah dia sudah menebak kalau aku akan menanyakan hal
ini. Dia meletakkan piring yang sudah dia habiskan isinya lalu berjalan
ke luar kamar penginapan.

“Lebih baik kita bicara keluar. Aku tidak ingin mengganggu tidur
Verseva”

Aku hanya menuruti permintaan Chiox tanpa peduli pada tatapan tajam
Katcha dan Shylphid.

Udara dingin malam tempat ini terasa sedikit menyakitkan menembus
mantelku. Tapi Chiox sepertinya santai saja dengan pakaian tipis yang
dia kenakan. Mata hitamnya menatap bintang yang bersinar terang
menghiasi malam.

“Apa yang akan kau dengarkan mungkin akan sedikit di luar akal sehatmu.”
Chiox membuka pembicaraan tanpa menatapku. “Apa kamu sudah siap?”

Pernyataan Chox sempat membuatku sedikit bergetar. Tapi apa yang aku
alami beberapa hari belakangan ini sudah berada di laur akal sehatku.
Dan aku sudah siap dengan semua jenis kemungkinan. Bahkan jika
sebenarnya mereka ini adalah hantu!

“Kami adalah Volk Brigade dari dimensi ke-3.” Chiox berbalik menatapku
dalam. “Kami bukan orang yang seharusnya berada di tempat ini.”

Tatapan dalam Chiox sekali lagi membuatku gentar. Dia mungkin terlihat
santai, tapi dengan tatapan tajam seperti itu, dia terasa sedikit
menakutkan.

“Singkatnya, Kami ini hantu…”

“Hah?”

***


Last edited by eve on Wed Aug 18, 2010 12:31 pm; edited 1 time in total

eve
Newbie
Newbie

Loli Mecha Musume

Race : Loli
No Medal
Posts : 28
Gold : 4651
Reputation : 3
Join date : 2010-08-14
Age : 25

View user profile

Back to top Go down

Re: [DESIGN] Volk Brigade Project

Post by kuroro on Wed Aug 18, 2010 12:30 pm

hmm... background cerita yang menarik, dan universe yang luas
kayaknya bisa jadi cerita yang panjang

edit: oh, lagi posting ternyata
maaf saya mengganggu di tengah2
Sweat

edit2: sepertinya saya tidak mengganggu siapa2 Very Happy
btw, alurnya cepat ya
kayaknya bagus dibuat film ini

kuroro
Sensei
Sensei

Styx

Male Race : Pokemon

Posts : 2007
Gold : 5329
Reputation : 1
Join date : 2010-05-31
Age : 115
Location : Ryuuseigai

View user profile

Back to top Go down

Re: [DESIGN] Volk Brigade Project

Post by eve on Wed Aug 18, 2010 12:49 pm

ga, santai aja.,., file sambungan dari tiga chapter di atas udah hilang Bad .,., jadi untuk smentara post 3 chapter dulu.,., lanjut kalo lagi ada mood buat reqwrite 10 phase berikutnya (total 13 phase)

tapi karena akhir2 ini sibuk.,., jadi mungkin bakal makan waktu lama Erm...

eve
Newbie
Newbie

Loli Mecha Musume

Race : Loli
No Medal
Posts : 28
Gold : 4651
Reputation : 3
Join date : 2010-08-14
Age : 25

View user profile

Back to top Go down

Re: [DESIGN] Volk Brigade Project

Post by kuroro on Wed Aug 18, 2010 12:59 pm

buset, hilang 10 chapter
yasudah, ditunggu aja updatenya (kalo update sih)
thumb up dulu buat yang bikin Very Happy

kuroro
Sensei
Sensei

Styx

Male Race : Pokemon

Posts : 2007
Gold : 5329
Reputation : 1
Join date : 2010-05-31
Age : 115
Location : Ryuuseigai

View user profile

Back to top Go down

Re: [DESIGN] Volk Brigade Project

Post by eve on Wed Aug 18, 2010 1:04 pm

buset, hilang 10 chapter

iya.,., hilang bersama beberapa draft (complete) light novel ama beberapa GB eroge VN.,.,. Cry

eve
Newbie
Newbie

Loli Mecha Musume

Race : Loli
No Medal
Posts : 28
Gold : 4651
Reputation : 3
Join date : 2010-08-14
Age : 25

View user profile

Back to top Go down

Re: [DESIGN] Volk Brigade Project

Post by kuroro on Thu Aug 19, 2010 8:29 am

ya sudah
tabah ya
*pat pat*

kuroro
Sensei
Sensei

Styx

Male Race : Pokemon

Posts : 2007
Gold : 5329
Reputation : 1
Join date : 2010-05-31
Age : 115
Location : Ryuuseigai

View user profile

Back to top Go down

Re: [DESIGN] Volk Brigade Project

Post by emasmurni on Thu Aug 19, 2010 9:03 pm

Here comes the corrector
Correction:
Rider
Memanfaatkan teknologi yang diiliki dimensi yang lebih maju.
Kata "dimiliki" kurang 'm'

Scouter
Yang menjadi cirikhas mereka
adalah adanya A.I. yang mendampingi mereka.

Kata "cirikhas" harusnya diberi spasi menjadi "ciri khas"

First Phase
Orang yang dia maksud sendiri berpenampilan tidak kalah aneh. Kutaksir
dari perawakannya yang sedikit tingi kurus

Kata "tinggi" kurang 'n'

Hanya saja kereta yang aku tumpangi
bukanlah diserang oleh bandit, melainkan diserang leh pasukan kerajaan
Rubidia.

Kata "oleh" kurang 'o'

Second Phase

Kata-kata anak itu kembali terlintas di telngaku.

Kata "telingaku" kurang 'i'

Meski perkembangan ilmu sihir tergolong pesat saat itu, tapi hinga saat

Kata "hingga" kurang 'n'

Tapi yang jelas, jika dia benar-benar angota Pasukan Hantu, dia pasti
akan berguna untuk kami.

Kata "anggota" kurang 'g'

Jadi aku
mengambil buku di atas meja kamarku lalu mulai asik dengan untaian huruf
yang bertenger di sana.

Kata "bertengger" kurang 'g'

Umurnya mngkin lebih tua dari buku yang baru aku
baca. Aku tidak begitu mengerti apa yang Volken bicarakan. Tapi tidak
ada salahnya untuk mencoba membaca buku itu, bukan? Kata pertama yang
menyambutku di halaman depat cukup untuk membuatku terpaku sejenak.

Kata "mungkin" kurang 'u' dan kata "depan" jadi "depat"

Third Phase
Aku langsung salah tingkah begitu keperogok
mencuri dengar.

Kata "kepergok" jadi "keperogok"

“Lu kira gua Doraem*n dimensi ke-3 apa?” Shyphid menggaruk kepalanya
yang tidak gatal. “Ya udah, sini gua gendong!”

Nama "Shylphid" kurang 'l'

Apa yang sbenarnya terjadi?

Kata "sebenarnya" kurang 'e'

Pernyataan Chox sempat membuatku sedikit bergetar.

Nama "Chiox" jadi "Chox"

Tapi apa yang aku
alami beberapa hari belakangan ini sudah berada di laur akal sehatku.

Kata "luar" jadi "laur"

Ceritanya bener2 kerasa kayak story di game2 RPG
REP+ dah bwt anda


emasmurni
Sensei
Sensei

I'm your Average Joe

Male Race : Soldier
No Medal
Posts : 1767
Gold : 6711
Reputation : 3
Join date : 2010-04-30
Age : 20
Location : Jakarta Barat

View user profile

Back to top Go down

Re: [DESIGN] Volk Brigade Project

Post by Sponsored content Today at 9:51 am


Sponsored content


Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum