Snow Covered Heart

View previous topic View next topic Go down

Snow Covered Heart

Post by kuroro on Thu Dec 23, 2010 10:39 am

kukuku:
saya sendiri merasa cerpen ini kurang hidup dan banyak kekurangan di sana sini
semoga nggak bingung bacanya ya
kritik dan saran ditunggu
selamat membaca cerpen kilat yang saya buat dalam dua malam sambil mengantuk
Gongxi


Asap tebal memenuhi ruangan, membuatnya terbatuk-batuk. Matanya pedih dan dadanya sesak. Air mata mengalir sementara tangan-tangan kecilnya memegang erat kedua tangan yang memeluknya.

“Semua akan baik-baik saja, petugas akan segera datang, dan kita semua bisa keluar,” ucap sang ayah pelan. Tangan kanannya menggenggam tangan kecil yang dipeluknya dengan tangan sebelah kiri.

“Tenanglah nak, jangan menangis,” sang ibu meneteskan air mata dari sebelahnya. Tangannya mengusap rambut kelabu anak itu.

Suara sirine sayup-sayup terdengar, bercampur dengan gemeretak kayu terbakar, ketika mendadak langit-langit runtuh, membawa bara api menimpa keluarga kecil itu.

***

Dia memandang keluar jendela kamarnya. Cahaya samar masuk melalui kaca, menampilkan pemandangan serba putih di luar rumah. Salju, batinnya sambil menghela nafas. Sama saja, pikirnya sambil beranjak dari ranjang.

Setelah sarapan dengan sandwich dan memasukkan beberapa potong ke dalam kotak makan untuk makan siang, dia melangkah keluar dari ruang makan. Ketika melewati ruang tamu, sejenak dia berhenti, menatap sebuah potret di meja kecil di samping televisi. "Ayah, Ibu, aku berangkat," ucapnya singkat, lalu kembali berjalan.

Jalanan tertutup salju tebal berwarna putih. Dia menatap matahari yang mulai naik di antar rimbun pepohonan. "Tak bisa ya," gumamnya pelan. "Memang," dia mempercepat berjalan. Langkah kakinya meninggalkan jejak sepatu bot di sepanjang jalan.

***

Dia terbangun dengan rasa nyeri di semua sendi tulangnya. Pandangannya kabur, dan lidahnya terasa pahit. Terbaring di dalam ruangan berwarna terang, sinar matahari yang menerobos melalui jendela menambah kesan cerah ruangan itu.

“Ayah,” ucapnya lirih, hampir tak terdengar.

“Ibu,” dipaksakannya menoleh ke kiri. Rasa sakit di leher membuatnya hanya bisa menoleh sedikit. Sebuah tiang penyangga kecil dengan kantong infus berdiri di sebelah ranjang, dan sebuah selang kecil menghubungkan kantong itu dengan punggung tangannya.

Sekilas terbayang dinding api yang menimpanya. Genggaman tangan ayahnya, dan pelukan erat dari ibunya, sesaat sebelum semuanya menjadi gelap. Dingin terasa menjalar naik, dari ujung kaki hingga ke leher. Dia kehilangan kesadaran.

***

Gerbang sekolah yang membeku menyambut kedatangannya pagi itu. Dia berjalan tanpa berkata-kata, naik ke lantai 2, berusaha menghindari tatapan murid-murid lain, dan duduk di kursinya, di sebelah jendela. Dia terdiam, memandang keluar, pemandangan kota yang memutih.

Tanpa terasa, waktu istirahat siang telah datang. Dia memakan sandwich dingin yang dibuatnya tadi pagi di mejanya. Tak ada tanda-tanda keinginan untuk beranjak sekedar berjalan-jalan atau bercakap-cakap. Bahkan murid dalam kelas itu tak satupun menegurnya. Mereka semua terkesan menghindar. Dia tidak merasa keberatan, sudah bertahun-tahun orang bersikap seperti itu, dan sepertinya tidak akan berubah dalam waktu dekat.

“Seperti biasa,” dia bergumam sendiri, mengunyah potongan terakhir bekalnya.

Bel masuk berdentang ketika dia mengemasi kotak makannya. Seorang laki-laki usia 40-an dengan celana abu-abu dan kemeja putih berjalan masuk, lalu berdiri di depan kelas. Di belakangnya mengikuti, seorang perempuan dengan seragam sekolah mereka.

“Hei, bukankah sekarang waktunya biologi?”

“Entahlah, kenapa Pak Livet tidak datang?”

“Mana aku tahu?”

“Siapa cewek itu?”

“Manis juga.”

“Kelihatannya pintar.”

“Dia murid pindahan ya?”

“Ehem..” laki-laki di depan kelas berdehem. Suasana kembali hening.

“Pemberitahuan mendadak, hari ini Pak Livet tidak bisa hadir karena ada acara keluarga. Ini tugas untuk kalian kerjakan. Tolong membentuk kelompok, tiap kelompok 2 orang” katanya sambil meletakkan setumpuk kertas di meja guru. “Masing-masing kelompok mengambil satu lembar, soal yang harus dikerjakan ada di lembaran itu. Jawaban ditulis di halaman baliknya. Kalau ada masalah, bisa hubungi guru piket di ruangan.”

Kelas yang semula hening menjadi berisik. Semua membicarakan tugas itu.

“Dan satu lagi,” pembawa berita menambahkan. “Ini ada murid baru, namanya Venn, mulai hari ini dia satu kelas dengan kalian. Venn, silakan duduk di kursi yang kosong. Kalian semua, kerjakan tugasnya, jangan ada yang keluar kelas.” Guru itu menutup pembicaraannya dan berjalan keluar.

Tugas dan murid baru, bukan pasangan yang bagus, dia membatin sambil memandang keluar. Sekelompok burung terbang di atas pohon-pohon di kejauhan, saling kejar dan berbelok-belok di udara. Dia menggelengkan kepala pelan.

***

Masih lekat dalam ingatan ketika lelaki itu muncul. Masih terngiang kata-kata pertama yang diucapkan ketika membujuknya agar tinggal bersama dia.

“Aku kenal ayahmu. Apapun yang dikatakan orang, aku tidak peduli. Mari, tinggallah bersamaku. Aku berjanji akan menjagamu,” lelaki itu tersenyum sambil mengulurkan tangan.

Anak kecil di depannya mengangguk, menerima uluran tangan itu. Menggenggamnya erat, air mata menetes dari mata kecilnya, turun hingga ke dagu.

“Hei, aku tahu kau masih sedih. Aku tahu aku tidak bisa menggantikan orang tuamu, lagipula umurku baru 24 tahun. Biarlah aku menjadi temanmu. Aku tidak terlalu tua kan? Kau boleh memanggilku Alfred saja,” lelaki itu menepuk pelan kepala anak kecil itu. “Ayo, kita pulang.”

Kejadian itu terlihat dengan jelas di matanya, meskipun sudah terjadi 10 tahun yang lalu. Hari ini dia ingin memamerkan sesuatu padanya, sesuatu yang akan membuat lelaki itu bahagia.

“Tunggu Alfred, aku akan memperlihatkanmu sesuatu,” gumamnya girang sambil berlari menuju rumah.

Peringkat pertama huh? Wow, hebat juga. Siapa tahu kau bisa dapat Nobel juga suatu hari nanti, hahaha. Terbayang Alfred tertawa lebar di rumah kecil mereka.

Dia menerjang pagar yang terbuka, dan membuka pintu, lalu masuk rumah dengan suara ribut. Berteriak sambil melambaikan lembaran yang dibawanya, “Alfred!! Lihat ini, keren kan...”

Dilihatnya Alfred terbaring berlumuran darah. Di sampingnya seorang pria memegang pisau lipat, menatap tajam ke arahnya.

“La... ri.. “ Alfred berkata lemah, sebelum kepalanya terkulai ke samping.

Pria dengan pisau itu berlari ke arahnya, membuat sebuah gerakan menusuk. Dia kehilangan kekuatan melihat Alfred meregang nyawa dan jatuh terduduk, membuat tusukan pria itu meleset.

“ALFREEED!!!!” teriaknya sekuat tenaga. Perasaan dingin menjalar di kakinya, secepat kilat naik hingga ke lehernya. Rasa dingin yang sama ketika dinding api itu runtuh menimpa kedua orang tuanya. Pandangannya mengabur, memutih, dan semua menjadi gelap.

***

“Hei, tempat ini kosong kan?” suara perempuan di sampingnya membuatnya menoleh. “Boleh kalau aku duduk di sini?” tanyanya lagi.

Seisi kelas mendadak sunyi. Semua mata memandang ke arah Venn.

“Hei, aku tahu sepertinya seluruh kelas menghindarimu, tapi ini satu-satunya tempat kosong, jadi boleh aku duduk di sini kan?” Venn sedikit berbisik, takut menyinggung murid lain.

“Kenapa?” yang ditanya menjawab tanpa menoleh.

“Karena aku kasihan. Baik kan aku, mau duduk di sebelahmu. Pasti kau belum ada kelompok juga kan untuk tugas biologi itu? Yasudah kelompok sama aku aja. Sebentar, aku ambil kertas tugasnya,” Venn meletakkan tasnya, lalu berjalan mengambil lembaran tugas di meja guru.

“.... ” dia memandang sekilas ke arah Venn.

Tugas biologi itu selesai dengan cepat karena. Venn menjawab semua pertanyaan, dan dia menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang dia tanyakan. Setelah selesai, Venn berputar keliling kelas, berkenalan dengan semua anak, hingga waktu pelajaran selesai.

Hari itu berlalu dengan cepat, dan pelajaran terakhir, fisika, telah selesai. Entah mengapa, Venn meminta agar tugas mengembalikan alat-alat praktikum diberikan kepadanya. Guru dan murid-murid setuju saja.

“Hei, ayo bantu aku,” Venn menarik tangan anak di sebelahnya. “Siapa tadi namamu, Fryse ya?”

“Kenapa?” Fryse menjawab dengan malas.

“Sudahlah, sekalian mengenalkanku dengan sekolahmu ini. Semua murid kayaknya menjauhimu, masih bagus aku mau menjadi temanmu. Dan juga mengerjakan sendiri soal biologi tadi. Sekarang ayo bantu mengembalikan semua ini. Ayolah, kamu laki-laki kan,” Venn berkata cepat sambil berdiri.

“Mungkin,” Fryse melirik keluar jendela. Langit terang, tidak ada tanda-tanda akan turun salju.

“Kelamaan mikir, ayo jalan,” Venn menarik Fryse, memaksanya berdiri dari kursinya.

Mereka berjalan menyusuri koridor tanpa halangan. Murid lain sudah pulang semua, membuat suasana menjadi lengang. Venn bercerita panjang lebar, bertanya ini itu, yang dijawab Fryse dengan anggukan dan jawaban singkat satu atau dua kata.

***

Dia berdiri di depan makam Alfred. Pelayat lain telah lama pulang. Dia datang terlambat di pemakaman ini. Interogasi polisi memakan waktu lama.

Identifikasi jenazah menyatakan Alfred meninggal akibat tusukan 3 kali di bagian dada, 2 tusukan merobek paru-paru kiri, dan satu tusukan menembus jantungnya.

Laki-laki pelaku penusukan, masih diselidiki identitasnya, ditemukan meninggal di lokasi, tidak jauh dari mayat Alfred. Otopsi menyatakan dia mati karena frostbite, sesuatu yang umu terjadi di wilayah dingin. Yang tidak umum adalah, frostbite terjadi di sekujur tubuhnya, membekukan darah secara mendadak, dan memecah arteri utama tepat di dada kiri. Bisa dikatakan dia dibekukan selirih tubuhnya.

Anak lelaki itu tidak berkata apa-apa di kantor polisi. Air mata menetes membasahi kemejanya. Lembar beasiswa yang akan dipamerkan masih dipegang erat. Lima jam dia duduk tanpa bersuara, hanya isak tangis terdengar, sebelum akhirnya polisi memperbolehkannya pergi.

Kasus itu tenggelam setelah hampir satu tahun tidak ditemukan titik terang, siapa pelaku dengan pisau, apa motifnya, dan bagaimana frostbite yang tidak biasa itu bisa terjadi.

Anak itu melanjutkan harinya dengan diam. Sjanse School, sekolah yang menyediakan pendidikan mulai SD hingga SMA, memberikannya kebebasan dalam biaya pendidikan hingga lulus SMA. Namun anak itu terlanjur berubah. Kehilangan orang-orang yang disayangi dalam waktu sesingkat itu mengguncang jiwanya.

***

Fryse berhenti dan membuka sebuah pintu di ujung koridor. “Di sini,” dia berkata sambil berjalan masuk.

“Wow, besar juga ya. Lihat tabung-tabung besar itu,” Venn memutar pandangannya ke sekeliling ruangan.

“Hati-hati,” Fryse meletakkan barang-barang yang dibawanya ke sebuah rak panjang. Beberapa botol dengan leher kecil dan badan bulat nampak berjejer di ujung rak.

“Hei, suara apa itu ya?” Venn menoleh. Pandangannya mengarah ke langit-langit di atas jendela. Suara desisan kecil terdengar samar-samar.

“Sebaiknya..” ucapan Fryse terpotong oleh bunyi gemeretak keras.

Kabel listrik yang terhubung dengan lemari pendingin meletup kecil dan mengeluarkan asap. Bunyi desisan semakin keras terdengar.

“Listriknya..” Fryse tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.

Arus pendek membakar jalur kabel sepanjang langit-langit ruangan, dengan cepat merembet ke dinding. Asap tipis muncul di udara. Venn terpaku memandang kejadian cepat di depannya.

Api menyambar tabung-tabung gas di sisi ruangan, dan membuatnya meledak dengan suara keras. Tabung logam yang hancur berkeping-keping melesat di udara. Isi gas yang memuai dengan cepat disambut oleh percikan api, membakarnya seketika, membentuk bola api yang membesar dengan mengerikan.

Semua terlihat seperti dalam gerak lambat. Fryse refleks melompat ke depan Venn, mencoba melindunginya dari ledakan itu. Dia melihat gerakan pecahan tabung itu, partikel gas yang terbakar, dan energi panas luar biasa yang akan sampai di wajahnya dalam beberapa milidetik.

Rasa dingin itu muncul di kakinya. Sekilas bayang wajah orang tuanya nampak di antara gumpalan api. Alfred terlihat tersenyum kepadanya. Mendadak rasa rindu yang dalam terhadap rumah mungil mereka timbul di hatinya. Rasa dingin itu naik secepat kilat, telinganya terasa beku meskipun bola api itu semakin mendekat.

Fryse merasakan maut mendekat, namun dia tidak menghiraukannya. Venn harus selamat, dia satu-satunya orang yang mau berteman dengannya setelah bertahun-tahun semua menghindarinya. Di dalam keputusasaan, Fryse merentangkan tangan ke depan, berusaha menghentikan gerakan bola api itu, meski ia tahu itu sia-sia.

Rasa dingin itu semakin kuat, jari-jari tangannya seakan terbakar akibat efek dingin pada ujung syarafnya. Mendadak semua dingin menghilang. Pandangannya mengabur, dan berat tubuhnya serasa menghilang. Fryse jatuh berguling di lantai, berusaha berdiri lagi. Dia menoleh ke arah Venn, gadis itu masih terpaku di tempatnya. Dia selamat, batin Fryse dalam hati.

***

Venn terpaku menatap percikan api itu. Seluruh kekuatan di kakinya hilang, dia hanya bisa menatap dengan ketakutan. Tabung yang hancur itu. Seluruh gas yang memuai, dan jilatan lidah api yang menyambutnya. Dia melihat semuanya, dalam gerakan yang diperlambat, dan dia menunggu maut menjemputnya.

Dilihatnya sebuah siluet bergerak di depannya. Tangannya terentang seakan berkata ‘jangan’ pada bola api itu, tapi tidak ada yang terjadi. Dia yakin jarak bayangan itu dengan api tinggal beberapa cm ketika siluet itu bergerak, memasukkan tangannya ke dalam gumpalan api yang terus membesar.

Dalam hitungan seper sekian milidetik, dia melihat partikel berwarna putih menyelubungi siluet itu, lalu seperti serbuk yang terbawa angin, masuk perlahan ke dalam pusaran api. Sesaat semua terlihat akan berakhir, ketika mendadak gumpalan api itu menghilang, kabut tipis menggantikannya. Serpihan logam tertutup substansi transparan, melesat di kiri dan kanannya, lalu menancap ke dinding di belakangnya. Dia selamat.

Siluet itu berguling di lantai sesaat kemudian, lalu menoleh ke arahnya. Fryse, itu Fryse, dia menyelamatkanku. Kedua tangannya terbakar, dan beberapa pecahan logam menancap di dadanya.

***

Fryse melihat tatapan ketakutan dari Venn. Dia berusaha berdiri, tapi suara gemeretak keras mengagetkannya. Sebuah potongan kayu jatuh dari langit-langit menimpa kakinya. Balok yang membara itu dengan cepat menghanguskan celana yang dikenakannya. Bau daging terbakar tercium di dalam ruangan.

Fryse memandang ke arah Venn, yang masih berdiri di tempatnya. Kakinya gemetar, dan keringat mengalir di dahinya. Suara ledakan kecil terdengar, sebuah alat combustion kecil terbakar di raknya.

“Pergilah, cepat,” Fryse berucap sambil memandang Venn lekat-lekat. Kakinya mulai mati rasa, dan tempat ini berbahaya. “Pergilah Venn,” katanya lagi sambil menghela nafas.

Apa yang dilakukan Venn tidak diduga sama sekali oleh Fryse. Venn berusaha mengangkat balok membara yang menimpa kakinya. Tangan-tangannya dengan cepat terlalap api, tapi balok itu bergeser dan Fryse merasakan beban di kakinya menghilang.

Fryse berusaha bangun, tapi luka di kakinya membuatnya tidak bisa menggerakkan kedua kakinya.

“Ah,” Fryse mendesah menyadari apa yang dilakukan Venn percuma. Dia tidak akan bisa pergi dari tempat itu. Dan sekali lagi Venn melakukan hal yang tak terduga.

Dua tangan yang baru saja mengangkat balok itu memegang lengannya. Venn sekuat tenaga menarik Fryse keluar dari ruangan itu. Fryse akhirnya keluar dari tempat itu dan bunyi kayu terbakar menjadi samar terdengar, tapi Venn terus menariknya. Mereka menjauh beberapa meter dari pintu masuk ketika suara ledakan keras terdengar. Percikan api keluar dari pintu yang baru saja mereka lewati, diikuti asap tebal memenuhi koridor.

Suara sirine terdengar sayup dari luar. Langkah-langkah kaki terdengar mendekat dengan cepat.

“Hei, kalian tidak apa-apa? Hei,” seorang lelaki bertanya dengan sedikit panik.

Fryse merasa pandangannya mengabur. Asap yang masuk ke paru-paru membuat dadanya terasa panas. Semuanya gelap.

***

Fryse membuka mata, di sebuah ruangan yang terasa akrab dengannya. Dia pernah berada di sini. Warna ini, aroma ini, dan jendela itu.

Suara pintu terbuka membuatnya menoleh. Venn masuk dan duduk di sebelahnya. Tangannya dibalut perban warna putih.

“Venn, kamu..” Fryse mencoba membuka percakapan.

“Bodoh, kenapa menyuruhku lari? Sudah bosan hidup ya. Bagaimana kalau aku tidak menyeretmu keluar dari tempat itu hah?” Venn berkata cepat.

“Tapi..” sekali lagi Fryse dipotong.

“Tapi apa? Kau ini memang suka seenaknya sendiri ya? Mau jadi pahlawan? Mau aku merasa berhutang budi seumur hidup? Dasar,” Venn tidak memberi kesempatan kepada Fryse. “Kau sendiri, kenapa mati-matian melindungiku? Kupikir kau berniat bunuh diri.”

Fryse terdiam. Dia memandang ke luar jendela. Angin berhembus perlahan, membuat beberapa gumpalan kecil salju turun dari ranting-ranting pohon Alpin.

“Kau yang pertama,” Fryse berkata perlahan.

“Eh?”

“Aku selalu duduk sendiri,” Fryse masih memandang keluar. “Sjanse memberiku kebebasan dalam biaya pendidikan. Tapi aku selalu sendiri. Kursi di sebelahku selalu kosong sejak bertahun-tahun lalu, meskipun sudah berkali-kali kenaikan kelas. Tidak ada yang mau mendekatiku. Tidak hanya murid, bahkan guru juga begitu, semua orang di kota ini seperti itu,” Fryse menoleh ke arah Venn. “Kau tahu kan alasannya. Partikel putih itu..”

“Ooh, kasihan sekali dirimu. Berarti keputusanku tidak salah kan. Dan partikel putih itu, aku tidak mau tahu apapun itu. Kau sudah menyelamatkanku, paling tidak hatimu baik,” Venn tersenyum padanya.

“Heh, kau punya kebiasaan memotong orang bicara ya,” Fryse tersenyum balik.

“Baiklah, nanti aku akan kembali lagi bersama keluargaku. Jangan banyak bergerak ya, biar lukamu cepat sembuh,” Venn berdiri lalu berjalan ke arah pintu. “Sampai nanti teman,” dia melambaikan tangan dengan susah payah.

“Kau juga ya,” Fryse tidak berusaha membalas lambaian tangan itu.

“Teman, huh? Sudah berapa tahun aku tidak mendengar kata itu,” Fryse kembali memandang ke luar jendela. Matahari mengintip di sela-sela awan kelabu.

Ayah, ibu, maaf aku tidak jadi datang ke tempat kalian. Anak ini mengikatku di tempat ini. Alfred, aku punya teman. Fryse memejamkan matanya, tersenyum.

kuroro
Sensei
Sensei

Styx

Male Race : Pokemon

Posts : 2007
Gold : 5333
Reputation : 1
Join date : 2010-05-31
Age : 115
Location : Ryuuseigai

View user profile

Back to top Go down

Re: Snow Covered Heart

Post by kuroro on Thu Dec 23, 2010 10:41 am

mengarang itu susah ya
....

kuroro
Sensei
Sensei

Styx

Male Race : Pokemon

Posts : 2007
Gold : 5333
Reputation : 1
Join date : 2010-05-31
Age : 115
Location : Ryuuseigai

View user profile

Back to top Go down

Re: Snow Covered Heart

Post by Fuyuki Akihito on Sun Jan 09, 2011 3:21 pm

Anoo.. Yuki ga begitu mengerti mengenai "partikel putih" dalam cerita ini.. Ara?
Maafkan Yuki Gomen

Fuyuki Akihito
Senpai
Senpai

Puding-holic

Female Race : Goth Loli

Posts : 688
Gold : 4607
Reputation : 0
Join date : 2010-08-29
Age : 22
Location : in your heart

View user profile http://rangkaianktakehidupan.wordpress.com

Back to top Go down

Re: Snow Covered Heart

Post by kuroro on Mon Jan 10, 2011 1:14 pm

sesuatu yang putih dan kecil
Ara?
saya sendiri bingung juga
Sweat

kuroro
Sensei
Sensei

Styx

Male Race : Pokemon

Posts : 2007
Gold : 5333
Reputation : 1
Join date : 2010-05-31
Age : 115
Location : Ryuuseigai

View user profile

Back to top Go down

Re: Snow Covered Heart

Post by kuroneko20 on Mon Jan 10, 2011 7:10 pm

ceritanya keren ~~~ CupidFlute

kuroneko20
Sensei
Sensei

Hi..Guys...

Female Race : Hollow

Posts : 1112
Gold : 5380
Reputation : 1
Join date : 2010-07-08
Age : 20
Location : Djogjakarta

View user profile

Back to top Go down

Re: Snow Covered Heart

Post by kuroro on Tue Jan 11, 2011 3:57 pm

ah terima kasih
Sweat
ngomong2 mana nih pengarang fanfic sebelah
katanya mau rilis cepet tapi sampe sekarang gak keluar2

kuroro
Sensei
Sensei

Styx

Male Race : Pokemon

Posts : 2007
Gold : 5333
Reputation : 1
Join date : 2010-05-31
Age : 115
Location : Ryuuseigai

View user profile

Back to top Go down

Re: Snow Covered Heart

Post by Fuyuki Akihito on Tue Jan 11, 2011 6:13 pm

Iya.. Yuki juga menunggu fanfic selanjutnya ^^
*asal ikut*

Fuyuki Akihito
Senpai
Senpai

Puding-holic

Female Race : Goth Loli

Posts : 688
Gold : 4607
Reputation : 0
Join date : 2010-08-29
Age : 22
Location : in your heart

View user profile http://rangkaianktakehidupan.wordpress.com

Back to top Go down

Re: Snow Covered Heart

Post by kuroro on Wed Jan 12, 2011 10:49 am

padahal udah janji ya
*jadi oot*
Khukhukhu

kuroro
Sensei
Sensei

Styx

Male Race : Pokemon

Posts : 2007
Gold : 5333
Reputation : 1
Join date : 2010-05-31
Age : 115
Location : Ryuuseigai

View user profile

Back to top Go down

Re: Snow Covered Heart

Post by Fuyuki Akihito on Wed Jan 12, 2011 8:57 pm

Iya.. katanya dpt inspirasi n mw ditampilkan dalam waktu dekat.. tapi ini kan udh 1 bulan!!!
*mulai ga jelas*

Fuyuki Akihito
Senpai
Senpai

Puding-holic

Female Race : Goth Loli

Posts : 688
Gold : 4607
Reputation : 0
Join date : 2010-08-29
Age : 22
Location : in your heart

View user profile http://rangkaianktakehidupan.wordpress.com

Back to top Go down

Re: Snow Covered Heart

Post by kuroro on Thu Jan 13, 2011 1:41 pm

ya tuh
mana orangnya nggak pernah nongol pula
*makin jauh melenceng dari judul*

kuroro
Sensei
Sensei

Styx

Male Race : Pokemon

Posts : 2007
Gold : 5333
Reputation : 1
Join date : 2010-05-31
Age : 115
Location : Ryuuseigai

View user profile

Back to top Go down

Re: Snow Covered Heart

Post by Fuyuki Akihito on Sun Jan 16, 2011 8:31 pm

Hm.. mungkin gi sibuk atau pergi atau mencari loli baru inspirasi???

Fuyuki Akihito
Senpai
Senpai

Puding-holic

Female Race : Goth Loli

Posts : 688
Gold : 4607
Reputation : 0
Join date : 2010-08-29
Age : 22
Location : in your heart

View user profile http://rangkaianktakehidupan.wordpress.com

Back to top Go down

Re: Snow Covered Heart

Post by kuroro on Wed Jan 19, 2011 11:10 am

sepertinya dia memang pergi mencari loli inspirasi baru
tapi kan kemaren katanya dah ada ide
Ara?

kuroro
Sensei
Sensei

Styx

Male Race : Pokemon

Posts : 2007
Gold : 5333
Reputation : 1
Join date : 2010-05-31
Age : 115
Location : Ryuuseigai

View user profile

Back to top Go down

Re: Snow Covered Heart

Post by Fuyuki Akihito on Wed Jan 19, 2011 4:55 pm

Hm.. tapi kenapa sampai sekarang belum ada update??? Ara?

Fuyuki Akihito
Senpai
Senpai

Puding-holic

Female Race : Goth Loli

Posts : 688
Gold : 4607
Reputation : 0
Join date : 2010-08-29
Age : 22
Location : in your heart

View user profile http://rangkaianktakehidupan.wordpress.com

Back to top Go down

Re: Snow Covered Heart

Post by kuroro on Thu Jan 20, 2011 11:13 am

entahlah
sepertinya tingkat kemalesannya udah akut
padahal dianya dah reply2 ke macam2 trit
mungkin cerita sekolah-sekolahannya udah nggak dilanjutin
*siap2 diteror karena pencemaran nama baik*

kuroro
Sensei
Sensei

Styx

Male Race : Pokemon

Posts : 2007
Gold : 5333
Reputation : 1
Join date : 2010-05-31
Age : 115
Location : Ryuuseigai

View user profile

Back to top Go down

Re: Snow Covered Heart

Post by Fuyuki Akihito on Fri Jan 21, 2011 1:00 pm

Hm.. btw udh di update ox kuroro-niichan~
Tadi Yuki udah s4 baca Nekosmile

Fuyuki Akihito
Senpai
Senpai

Puding-holic

Female Race : Goth Loli

Posts : 688
Gold : 4607
Reputation : 0
Join date : 2010-08-29
Age : 22
Location : in your heart

View user profile http://rangkaianktakehidupan.wordpress.com

Back to top Go down

Re: Snow Covered Heart

Post by Ayumu Yurihana on Tue Apr 19, 2011 7:18 pm

kak kill ini yg waktu itu yaaa
kereeeeen
Hontou?
seperti sudah berpengalaman sajaaaa
ajarin aku bikin cerpen kak kill buat tugas nih #lho

Ayumu Yurihana
Sensei
Sensei

Cat is My Soul

Female Race : F. Nekomimi
No Medal
Posts : 1617
Gold : 6596
Reputation : 3
Join date : 2010-04-17
Age : 21
Location : Sterkrhalda (disamping sang raja Günther dan anaknya Randvér)

View user profile http://tifanitifani.blogspot.com/

Back to top Go down

Re: Snow Covered Heart

Post by kuroro on Thu Jun 23, 2011 2:52 pm

lhooo???

kuroro
Sensei
Sensei

Styx

Male Race : Pokemon

Posts : 2007
Gold : 5333
Reputation : 1
Join date : 2010-05-31
Age : 115
Location : Ryuuseigai

View user profile

Back to top Go down

Re: Snow Covered Heart

Post by Sponsored content Today at 2:57 pm


Sponsored content


Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum